Monthly Archives: December 2015

Conotation – Sign – Value

#CopyPaste

quotes yasraf

Graphic Designer berkutat dalam wilayah estetika visual seputar asosiasi-asosiasi makna/konotasi, Sign (tanda) dan nilai (value) untuk kepentingan komunikasi.

Agung Budiman @agungvisualwork

Advertisements

Desember tees design

Desember tees from AgungStudio | Visualophy
tees.co.id/stores/visualophy

image

image

image

Continue reading


Gerakan Komik Lokal 90-an

cover-vol-7

(Majalah Infotekno Edisi 10 Th. 2 2002) | 


“Bedebah… Jahanam…Bangsat….!!!”
Makian-makian para pendekar komik Indonesia itu tentu sudah tak segagah dahulu. Si Buta, Panji Tengkorak, Godam dan Gundala, satu-satu roboh dihantam batu menhirnya Asterix -Obelix, jurus peremuk tulangnya Chinmi dan akhirnya dikencingi si bocah nakal Sinchan.

Mereka semua sudah lama mati, dikubur bersama runtuhnya dunia perkomikan lokal menjelang akhir 70-an. Tulisan ini tentu tidak bermaksud bernostalgia dengan almarhum jagoan-jagoan lokal tersebut dan sekedar menjadi obituary komik lokal Indonesia. Bagaimanapun sejarah akan tetap bergulir, perubahan-perubahan yang terjadi tentu tidak bisa kita abaikan begitu saja . Perkembangan komik di Indonesia kini sudah menjadi panggung komik-komik impor. Awal 80-an adalah permulaan invasi pemain-pemain asing tersebut. Dekade 80-an boleh dikatakan hampir tidak ada gebrakan karya-karya komik lokal seperti dekade-dekade sebelumnya. Harus diakui, pelaku dan pekerja komik kita memang harus belajar banyak pada karya-karya komik asing yang jauh lebih inovatif, baik dari sisi tema, gambar dan teknik becerita sampai pada soal manajemen penerbitan. Salah satu pemain bisnis komik yang sukses adalah industri komik Jepang yang mulai masuk pertengahan 80-an setelah era komik Eropa dan Amerika seperti Asterix, Tintin, Superman, Batman, Lucky Luke, Trigan yang lebih dulu merajai pasar komik Indonesia.

Continue reading


Masyarakat dan Komik

Agung Arif Budiman

 Ketika kita mendengar kata komik, barangkali pikiran kita langsung melayang pada masa kanak-kanak. Sebuah masa yang haus akan keinginan bermain dan berfantasi. Mungkin atas dasar demikianlah komik memiliki kekuatan yang boleh dikatakan luar bisa untuk berimajinasi. Sebuah spirit seorang bocah yg serba ingin tahu dan penuh daya khayal lengkap dengan kenakalannya. Sementara di pihak lain komik juga mendapat cap sebagai barang “terlarang” karena dianggap membuat malas, membuang-buang waktu dan menghambat pelajaran sekolah.

Lepas dari permasalahan nilai baik dan buruknya, komik menyimpan lahan luas untuk dijadikan bahan kajian. Selama ini komik masih relatif terpinggirkan dibanding bidang lain seperti sastra, seni lukis, drama dan berbagai bentuk ekspresi kesenian modern lainnya. Hal ini dimungkinkan oleh produksi komik yang bersifat massal—sebagaimana kelahirannya dalam bentuk komik strip di media massa—dan menjadi bagian dari budaya massa itu sendiri, sementara bidang kesenian modern lainnya ditempatkan sebagai seni tinggi atau elit yang penikmatnya bukan masyarakat biasa/umum. Kondisi semacam inilah yang cenderung membuat komik dipandang sebelah mata. Penikmat komik yang sangat luas dari berbagai umur dan kalangan masyarakat luas justru menandakan kedekatan antara komik sebagai medium dengan masyarakat luas sebagai pembaca.

Continue reading


%d bloggers like this: