THE DAGING TUMBUH: THE MAGIC OF PHOTOCOPY

 

#Essay

*Tulisan ini saya publikasikan tahun 2005 di majalah MATABACA (Agung Budiman)

 

segar1

 

Agung Komikaze
artikel untuk Majalah Matabaca edisi komik, Juli 2005

Yogyakarta menjelang akhir 90an adalah masa-masa yang menggairahkan bagi tumbuhnya komik-komik underground atau juga dikenal akrab sebagai komik fotokopian. Saya masih ingat nama core comic dan apotik komik yang dipelopori mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sempat menginspirasi tumbuhnya komik-komik fotokopian yang serupa. Saya yang terbiasa membaca komik-komik jepang, dan yang paling populer waktu itu adalah Kung Fu Boy menganggap komik-komik semacam itu hanya komik main-main dan iseng belaka. Seperti halnya pembaca-pembaca awam lainnya, komik ya harus bagus gambarnya dan ceritanya menghibur. Itulah kesan yang saya tangkap pertama kali membaca kompilasi Core Comic yang dibawa teman saya. Dalam hati, saya heran komik yang dibikin oleh mahasiswa-mahasiswa ISI kok malah gambarnya amburadul banget, padahal kan mereka seharusnya jago menggambar. Begitu pula pameran dan diskusi yang membahas fenomena komik fotokopian pun makin sering digelar di Yogyakarta. Jumlah eksemplar yang sedikit dan distribusi yang sangat terbatas membuat saya kesulitan mencari komik-komik nyleneh tersebut, tetapi anehnya makin lama makin membuat saya penasaran dengan komik-komik tersebut. Bahkan ketika saya mendapatkan satu kopian komik tersebut rasanya jauh lebih puas daripada membeli komik Kung Fu Boy di toko Gramedia sekalipun. Gila men! ada apa dengan komik-komik ini. Bahkan gerakan komik-komik fotokopi tersebut juga membuat saya terdorong membuat komik sendiri dan menerbitkannya sendiri dengan mesin fotokopi. Sejak saat itu saya ngefans dengan para artist komik fotokopian seperti Samuel Indratma, Bambang Toko, Popok, Arie (Apotik komik), Beng Rahadian, Nano Warsono, Ones (Teh Jahe), Athonk (Pure Black), dan kelompok Taring Padi yang rata-rata mereka semua mahasiswa-mahasiswa ISI. Saya tidak mengenal mereka secara pribadi tapi melalui karya komik mereka.

Setelah beberapa lama para komikus tersebut mulai vakum menerbitkan komik baru hingga pada Agustus tahun 2000 saya membaca Aikon sebuah media kebudayaan yang dibagikan gratis, sampul depannya memuat sebuah gambar mirip kaleng atau buntelan daging kemasan bergambar buah-buahan bertuliskan “segar” dan “daging tumbuh” dengan warna hijau segar dominan di latar belakangnya. Setelah saya buka lebih dalam tertulis sampul muka adalah cover komik kelompok komik Daging Tumbuh volume 1 juni 2000. Saat itu saya belum kenal seperti apa isi si Daging Tumbuh ini, tapi nama Segar dan Daging Tumbuh sendiri benar-benar telah terekam dan mengganggu otak saya. Beberapa bulan kemudian (November 2000) Aikon memuat tulisan tentang komik alternatif anak-anak Yogyakarta dan salah satunya Daging Tumbuh dengan nama Eko Nugroho sebagai pentolan kelompok ini. Tapi tetap saja saya kesulitan mencari produk Daging Tumbuh yang belakangan saya tahu edisi 1 bertitel Segar ini diterbitkan dengan jumlah yang tidak lebih dari 25 eksemplar. Ketertarikan saya makin menjadi-jadi hingga pada bulan Mei 2001 sebuah hajatan komik indie berjudul Kabinet Komik Indie diselenggarakan di Gelaran Budaya Yogyakarta. Pada acara ini seolah kehausan saya terhadap komik fotokopian terpenuhi, puluhan komik fotokopian digelar dan disinilah saya menemukan Daging Tumbuh yang ternyata sudah terbit 2 edisi mau menginjak ke edisi 3. Saya juga bertemu dengan para artist komik fotokopian (juga disebut komik indie) yang selama ini saya kagumi, termasuk Eko Nugroho yang kelak dikenal sebagai The Eko Nugroho. Ketika melihat kompilasi Daging tumbuh ini saya terkesima dengan keliaran-keliaran isinya, sangat berantakan semaunya sendiri, vulgar campur aduk, dan melihat ketebalan kompilasi ini yang mencapai hampir 200 halaman tentu terlihat lebih gemuk dibanding komik-komik indie lain yang rata-rata berisi 20 – 80 halaman saja. Sampul depan digarap dengan serius dari pilihan jenis kertas dan eksplorasi cetak sablon membuat taste yang unik dan beda dibanding komik indie lain yang jumlah halamannya sedikit dan sampulnya juga digarap seadanya. Saya menangkap kesan sebuah karya yang hancur-hancuran mendekonstruksi aturan baku komik tapi dikemas serius, ya… anak-anak ini memang serius untuk hancur!

The Eko Nugroho
Daging Tumbuh tidak bisa lepas dari nama Eko Nugroho, sosok perupa muda masih kuliah di jurusan seni lukis ISI yang menggagas terbitnya komik Daging Tumbuh serta mengangkat dirinya sendiri sebagai Presiden Daging Tumbuh. Jika ingin memahami Daging Tumbuh kita harus juga memahami isi otak manusia bernama Eko Nugroho ini. Saat bertemu dengan Eko pertama kali, bayangan yang selama ini ada di kepala saya sebelum bertemu dengannya buyar. Saya dulu membayangkan sosok Presiden Daging Tumbuh ini adalah seorang seniman sangar berambut gimbal berpakaian kumal dan tidak pernah mandi, pokoknya identik dengan yang brutal-brutal deh. Begitu saya bertemu dengannya semua bayangan tadi buyar, saya menemukan sosok biasa-biasa saja agak nylekuthis, tidak ganteng, tidak gondrong, suka senyum-senyum, sopan, ramah, suka bercanda, suka pakai kaos oblong dan celana training. Lebih surprise lagi mahasiswa seni lukis ISI angkatan 97 ini sudah punya istri dengan dua anak dan sangat mencintai keluarganya melebihi cintanya terhadap Daging Tumbuh.

Berawal dari pertemuan di Kabinet Komik Indie, intensitas pertemuan saya dengan Eko Nugroho mulai meningkat. Tak lama setelah acara itu Kompilasi edisi 3 Daging Tumbuh berjudul “Menggergaji Es Jeruk” terbit setelah edisi 1 “Segar” dan edisi 2 “Presiden vs Komik” terbit lebih dulu. Saya mulai mengenal beberapa seniman di komunitas Daging Tumbuh yang rajin menjadi kontributor seperti Wedhar Riyadi, Codit, Heri Cepuk, dan Surajiya. Nama Daging Tumbuh pun mulai dikenal di kalangan komunitas komik dan seni rupa di Yogyakarta. Fleksibilitas Eko Nugroho dalam membangun jaringan dengan beberapa kalangan dari komunitas seni di Yogyakarta semakin memperkaya nuansa Daging Tumbuh dengan hadirnya perupa-perupa sekelas Eddie Hara, Agung Kurniawan hingga Mela Jarsma terlibat jadi partisipan di beberapa edisinya.

Ketika menyiapkan edisi ke empat bertajuk “Sirkus” akhir tahun 2001 saya makin sering bertemu dengan Eko Nugroho ketika dia meminta saya menulis kata pengantar untuk edisi tersebut. Saya mulai mengenal lingkungan kehidupan Eko ketika bertandang di rumahnya. Eko waktu itu masih tinggal di sebuah kamar kontrakan kecil di kampung Prawirodirjan sebuah pemukiman padat di pinggiran sungai Code. Melewati gang-gang kecil berliku hingga saya harus menuntun motor untuk sampai ke kontrakannya. Di kamar kontrakan yang disekat menjadi ruang tamu dan kamar tidur dengan dapur kecil di sampingnya, Eko menyambut saya dengan ramah dan seperti biasa dengan canda dan ketawanya. Mbak Mita istri Eko Nugroho menyiapkan segelas teh manis panas kami bercengkrama sambil sesekali Eko bercanda dengan dua anak perempuannya yang berseliweran di pangkuan bapaknya. Kampung Prawirodirjan adalah tempat Eko Nugroho tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat kelas bawah pinggiran sungai Code. Eko menemukan banyak ide dan inspirasi dari kehidupan lingkungan tempat dia tinggal. Selain kuliah dan menjadi kepala keluarga, Eko sejak dulu suka menggambar kartun dan karyanya beberapa kali dimuat di majalah humor. Selain itu Eko sempat mengajar menggambar di Yakkum tempat rehabilitasi anak-anak penyandang cacat kemudian menjadi ilustrator lepas untuk penerbitan buku dan beberapa media kebudayaan. Kesibukan-kesibukan dan rutinitas sehari-harinya tidak mengurangi intensitas kerja seninya. Eko masih melukis, membuat drawing, membuat komik dan menjadi seniman mural terlibat dalam beberapa proyek seni mural di Yogyakarta. Bagi Eko kerja seni adalah sebuah bentuk komunikasinya dengan publik. Saya ingat ketika kami dengan senang hati melukis dinding-dinding sekolah TK di pelosok desa Magelang atas undangan mahasiswa KKN di sana. Eko menikmati pekerjaan seni publiknya dengan tulus dan apa adanya, cukup dengan segelas teh manis, gorengan dan makan siang maka semua akan happy-happy saja. Semakin banyak orang yang merespon seni publiknya (mural) semakin mengasikkan begitulah dia menikmati kerja seninya.

Gagasan awal terbitnya Daging Tumbuh pada mulanya adalah berawal dari kegelisahan mahasiswa senirupa ISI yang ingin sekali berpameran tapi tidak mampu mengakses ruang-ruang pameran di galeri. Eko menawarkan konsep galeri kertas bernama Daging Tumbuh, yang tak lain adalah ruang pamer bagi mahasiswa senirupa tersebut untuk berekspresi dan memamerkan karyanya. Beberapa partisipan tersebut masing-masing iuran untuk biaya produksi edisi pertama kemudian hasil penjualan edisi pertama akan digunakan untuk biaya produksi edisi 2 dan seterusnya tiap edisi akan mensubsidi edisi berikutnya. Daging Tumbuh akhrinya berkembang dengan menerima partisipan secara lebih luas, bagi siapa saja yang ingin berkarya silahkan mengirim karyanya yang sudah difotokopi plus iuran produksi. Kegigihan Eko untuk menerbitkan Daging Tumbuh secara rutin tiap 6 bulan adalah nyawa kelangsungan Daging Tumbuh. Berbagai cara dilakukan Eko agar Daging Tumbuh bisa terbit, selain hasil penjualan edisi-edisi sebelumnya dan iuran para partisipan, Eko juga sanggup membangun jaringan donatur yang tertarik dengan keunikan Daging Tumbuh untuk membiayai ongkos produksi tiap edisinya. Eko bahkan berteman akrab dengan operator mesin fotokopi yang dia panggil mas sumo karyawan sebuah copy center di Yogyakarta tempat Daging Tumbuh digandakan. Hingga saat ini (2005) telah terbit sampai edisi 10. Sebuah perjalanan panjang selama 5 tahun menjaga kontinuitas terbit Daging Tumbuh di sela-sela kesibukannya sebagai suami dan ayah dua anak. Nama Daging Tumbuh pun melesat menjadi ikon komik underground bersama Eko Nugroho.

The Daging Tumbuh
Melihat dari awal terbitnya hingga mencapai edisi 10, tentu bukan hal yang mudah sebuah buku kompilasi sanggup bertahan. Edisi-edisi awal Daging Tumbuh adalah edisi-edisi favorit saya karena orisinalitas semangatnya. Pada Edisi-edisi awal ini saya melihat semangat seni rupa yang kental mengambil medium yang identik dengan komik. Mau tak mau Daging Tumbuh disejajarkan dengan komik-komik underground pendahulunya seperti Core Comic dan Apotik Komik, meski konsep Daging Tumbuh sendiri adalah galeri kertas. Pengakuan Daging Tumbuh justru terlebih dahulu muncul di komunitas komik indie Yogyakarta. Konsistensi Daging Tumbuh sebagai galeri kertas pun akhirnya diakui di kalangan komunitas seni rupa. Daging Tumbuh dan Eko Nugroho akhirnya sering mendapat kesempatan berpameran, salah satunya di Biannale Seni Rupa di Gedung Taman Budaya pada pertengahan 2004 lalu.

Proses kerja dan spirit penerbitan Daging Tumbuh yang saya ikuti sejak edisi awal hingga yang terakhir adalah sebuah proses pembentukkan karakter, idiom bahkan ideologi yang secara tidak sengaja mengalir dan terbentuk begitu saja tanpa ada pretensi apa-apa keculai semangat bermain-main yang dihidupkan oleh sang Presiden Daging Tumbuh sendiri. Dalam proses tersebut akhirnya Eko menemukan mesin fotokopi sebagai basis ide kreatifnya. Pada akhirnya Daging Tumbuh identik dengan Eko Nugroho sekaligus identik juga dengan mesin fotokopi. Bahkan Eko sempat menggelar Daging Tumbuh Award untuk karya-karya yang dihasilkan dengan reproduksi mesin fotokopi. Bagi komik-komik indie lain mesin fotokopi mungkin hanya dipandang sebatas alat untuk menggandakan saja, tapi bagi Daging Tumbuh fotokopi adalah pusat kesadaran bahkan mungkin sebagai sebuah ideologi dalam berkreasi.

Saya lebih memahami Daging Tumbuh dengan ideologi fotokopinya sebagai sebuah permainan untuk menjungkirbalikkan apa yang selama ini dimapankan oleh sistem. Persoalan hak cipta, logika pasar, bahasa-bahasa baku semuanya diobrak-abrik tanpa beban oleh Daging Tumbuh. Nama Daging Tumbuh yang identik dengan penyakit dan sedikit berkonotasi menjijikkan menjadi lazim diucapkan sebagai bentuk karya seni. Saya tidak begitu paham teori-teori mutakhir filsafat, seni rupa, bahkan semiotika untuk menganilisis fenomena ini tapi setidaknya Daging Tumbuh berhasil mempermainkan makna bahasa yang sudah baku menjadi makna baru. Bukan hanya pembentukan makna baru tetapi menihilkan rangkaian kalimat menjadi absurd tanpa makna, seperti tema “Menggergaji Es Jeruk”, “Tendangan Maut Nanas Muda”, “Merobohkan Kelenjar Hari Libur” bahkan dengan enaknya mereka mengejek nama-nama band terkenal luar negeri yang sedang ngetrend diikuti band-band Indonesia berawalan the (the doors, the beatles dll) dengan cara mengadopsi untuk nama mereka sendiri menjadi The Daging Tumbuh, The Eko Nugroho, The Paijo, The Mulyono dst. Proses main-main inilah yang membentuk struktur pemaknaan baru yang khas Daging Tumbuh. Menikmati Daging Tumbuh adalah bukan hanya menikmati sebuah kompilasi seni visual (komik?) dalam bentuk buku tapi sekaligus menikmati idiom-idiom baru, plesetan makna, kebebasan bermain-main dan berkreasi di luar isi kompilasinya sendiri.

Daging Tumbuh hanya dicetak sebanyak 200 eksemplar saja dan dipersilahkan untuk dibajak bagi mereka yang kehabisan. Bahkan mereka yang mau membajak boleh membeli sampul aslinya selama persediaan masih ada. Eko tidak akan mencetak lebih dari 200 buku meski tiap edisi Daging Tumbuh pasti sold out! Mekanisme distribusinya pun dengan cara independen lewat distro, pameran komik, dari tangan ke tangan, bikin acara launching bahkan saya bersama Eko and his gank sempat mengasongkan Daging Tumbuh di pinggir jalan boulevard UGM, waktu itu dari hasil mengasong Daging Tumbuh cuma laku dua biji itu pun yang beli ibu-ibu berjilbab dan bapak-bapak tua, mungkin mereka kasihan atau takut ada orang gila teriak-teriak jualan Daging Tumbuh!

Hal lain yang juga ditunggu-tunggu oleh penggemar Daging Tumbuh yang dinamai oleh Eko sebagai the lendir (sebutan bagi pembaca daging tumbuh) adalah merchandise Daging Tumbuh yang menyertai setiap terbitannya. Barang-barang merchandise tersebut hebatnya adalah juga partisipasi dan support dari mereka penikmat Daging Tumbuh. Mereka rela mencetak stiker, kartu pos, membuat pin, membuat mainan anak-anak untuk disisipkan sebagai merchandise Daging Tumbuh. Saya kadang heran dan takjub kok mau-maunya mereka keluar uang membuat barang-barang itu untuk disisipkan. Bahkan ada yang mau repot membuat rokok sendiri sebagai merchandise dengan nama “rokok penghancur paru-paru sangat cocok untuk penderita asma”, dan lebih sadis lagi mereka yang membeli daging tumbuh rela dibilang dungu oleh Eko, bagaimana tidak? Di kemasannya tertulis “Hei Dungu!! Ada merchandise di dalam!

Cara Daging Tumbuh memandang, mengejek dan mempermainkan struktur dan relasi makna yang sudah baku membuatnya memiliki logika dan cara berkomunikasi sendiri. Daging Tumbuh tidak butuh laku ribuan eksemplar, tidak butuh keuntungan finansial, tidak butuh membayar para kontributornya (bahkan para kontributor yang membayar iuran ke Daging Tumbuh), Daging Tumbuh berhasil membangun komunitasnya sendiri meski masih terpusat pada figur seorang Eko Nugroho yang menjadi jangkar bagi para partisipan-partisipan Daging Tumbuh. Mereka sering bekerjasama dengan Eko Nugroho dalam proyek seni Daging Tumbuh di luar penerbitan rutin. Proyek mural dan pameran instalasi adalah salah satu pelebaran kegiatan seni dari kelompok yang berbasis dari sebuah penerbitan kompilasi bernama Daging Tumbuh ini. Saya berpikir Daging Tumbuh punya potensi berkembang menjadi sebuah kantung seni budaya jika komunitas ini terus berkembang dan Eko Nugroho sanggup memfasilitasi Daging Tumbuh bukan hanya sekedar memproduksi buku kompilasinya tapi melebarkan ke wilayah-wilayah ekspresi seni lainnya. Sejauh ini Eko sudah cukup membangun kerjasama dengan partisipan-partisipan di luar seni rupa untuk terlibat. Pada edisi 3, Daging Tumbuh bekerja sama dengan beberapa musisi eksperimental dan menelorkan album soundtrack Daging Tumbuh yang menyertai penerbitannya dalam bentuk kaset. Begitu juga pada edisi 9 Daging Tumbuh bekerjasama dengan beberapa band indie membuat album kompilasi melibatkan tiga kelompok band (Sameoldshit, The Manyoones dan The Harmonic Orchestra) yang disertakan sebagai bonus edisi tersebut dalam bentuk CD.

Dari sini saya bisa melihat Daging Tumbuh bukan hanya sekedar kompilasi tapi bisa berkembang menjadi sindikasi ekspresi seni di luar mainstream. Jika kita mengikuti dari edisi ke edisi banyak sekali iklan-iklan di Daging Tumbuh yang diisi dari kelompok band, distro, zine, kelompok pekerja desain, clothing sampai penerbit alternatif. Daging Tumbuh tidak menerima uang untuk pemasangan iklan, cukup barter produk atau barter iklan dan hanya mereka yang bergerak independen yang bisa memasang iklannya di Daging Tumbuh. Proses interaksi seperti inilah yang membuat Daging Tumbuh memiliki captive marketnya sendiri.

The Magic of Photocopy
Daging Tumbuh identik dengan fotokopi, sebuah mesin yang mungkin selama ini hanya dianggap sebagai alat pengganda dokumen dalam bentuk kertas. Pada awalnya mesin ini hanyalah pengganda yang praktis untuk menerbitkan Daging Tumbuh daripada dengan teknik cetak sablon atau offset, tetapi kemudian konsep seni reproduksi fotokopi menjadi trade mark bagi Daging Tumbuh. Fotokopi sudah menjadi seni di tangan Eko Nugroho dan menerapkannya sebagai bentuk ekspresi yang masih bisa dieksplorasi lebih jauh lagi. Daging Tumbuh telah menjadi media bagi seni fotokopi itu sendiri. Jika saya mengamati perkembangan Daging Tumbuh beberapa edisi terakhir sangat terasa penekanan pada eksplorasi seni menggunakan mesin fotokopi. Saya melihat Daging Tumbuh sudah berkembang sebagai seni fotokopi dan seni buku, meski citranya sebagai komik underground atau pun komik seni diakui di beberapa kalangan komunitas komik.

Lebih jauh lagi saya ingin melihat bahwa mesin fotokopi adalah sebagai salah satu faktor distribusi pengetahuan yang praktis dan murah bisa dijangkau oleh siapa saja. Hal inilah yang mendasari Eko Nugroho ketika melihat begitu banyaknya pusat pelayanan fotokopi di kota Yogyakarta dan menggunakannya sebagai alat penerbitan Daging Tumbuh. Mesin Fotokopi telah menjadi agen penyebaran pengetahuan dimana sudah ribuan sarjana dihasilkan dengan teknologi fotokopi yang melayani pengkopian literatur, skripsi, thesis, bahkan catatan-catatan kuliah menjelang ujian. Selama ini kita hanya menyadari mesin fotokopi hanyalah salah satu alat untuk mengakses pengetahuan seperti buku-buku teks yang harganya relatif mahal untuk bisa dinikmati dengan biaya relatif murah melalui mesin fotokopi. Kita masih belum tergerak untuk memproduksi sistem pengetahuan kita sendiri melalui cara mereproduksinya dengan mesin fotokopi. Apa yang sudah dihasilkan Daging Tumbuh bukan hanya sekedar eksplorasi seni dengan medium mesin fotokopi tapi juga keberaniannya membangun sistem pengetahuannya sendiri dengan menjadi penerbit independen.

Saya kira Daging Tumbuh tidak punya tendensi apa-apa jika ditempatkan dalam peta gerakan komik di Indonesia. Daging Tumbuh hanya bermain-main dan menciptakan dunianya sendiri, terserah orang mau bilang apa yang jelas fotokopi lebih baik daripada perang! Begitulah bunyi salah satu slogan Daging Tumbuh. Bisa jadi slogan tersebut hanya sekedar main-main saja tapi itulah cerminan sikap Daging Tumbuh. Mereka menolak hegemoni mainstream dengan caranya sendiri.

Apakah Daging Tumbuh masih bisa terus menjaga semangatnya, saya jadi teringat sang Presiden Daging Tumbuh empat tahun lalu di kontrakan kecilnya di pemukiman pinggiran sungai Code, sekarang kami sama-sama sibuk sehingga sudah jarang sekali bertemu. Terakhir saya mengontaknya via internet…. apa kabar mas presiden? Dia masih ramah menjawab…”Aku lagi golek upo nang Amsterdam” (Aku sedang mencari sesuap nasi di Amsterdam), saya hanya tersenyum ….wah mas Presiden Daging Tumbuh sedang berkunjung ke luar negeri,… it’s the magic of photocopy!

 

 

 

Advertisements

About AgungStudio

Creative Visual Content | Graphic Design | Illustration | Visual Arts | indiecomic | Photography | Blogger - Content maker | Coffelover | Designpreneur View all posts by AgungStudio

You must be logged in to post a comment.

%d bloggers like this: