Category Archives: VisiFiksi

BIDADARI TENGAH MALAM

Cerpen: Agung Arif Budiman @agungvisualwork

Malam sudah larut, rasa lelah dan kantuk membuatku begitu menikmati hangatnya kasur, bantal dan ranjang yang empuk. Pelan-pelan sepasang mataku mulai terasa sangat berat, sayup-sayup suara-suara merdu dari alam mimpi mulai memanggil-manggil seolah keluar dari bibir bidadari dan peri yang menghuni alam antah berantah tempatku berkunjung dalam lelap. Aku merasakan diriku sangat ringan seperti kapas yang terbang tertiup semilir angin, sebentar lagi aku akan bertemu para bidadari dan peri itu. Mereka begitu cantik dan manis kawan, ingin rasanya untuk tetap terlelap tanpa pernah terjaga untuk tidak kembali menghadapi penatnya pekerjaan sehari-hari yang membuat tulang-tulang dan badan ini makin rapuh dan reot. Samar-samar senyum para bidadari itu mulai membuatku masuk lebih dalam ke lorong kelelapan yang indah ini. Jari-jari tanganku berusaha menyentuh bibir merah yang merekah basah itu. Sejengkal lagi ujung jariku mengusap bibir basah dan membelai rambut hitam panjang lurus yang berkilauan tertimpa cahaya…. Tapi tiba-tiba kurasakan sesuatu seperti aliran listrik menyengat pusat kesadaranku, mataku terbuka mendadak dan bayangan bidadari-bidadariku  lenyap tanpa bekas. Kurasakan badanku tak lagi seringan kapas dan rasa pegal di sekujur badan membuatku seperti seonggok besi besar dan berat yang sudah karatan di atas ranjang.
Continue reading


Sekumpulan Imajinasi Kata-kata

Sehari-hari saya bergelut dengan imajinasi visual dalam pekerjaan saya (mendesain, membuat ilustrasi atau menggambar komik), tapi kata-kata punya ruang imajinasi tersendiri dalam pikiran saya bahkan punya effek visual yang sangat estetis . Saya jarang menulis puisi, dan  saya bukan sastrawan, ini sekedar tamasya pikiran saya ketika jenuh dengan dunia warna, garis dan titik di atas kertas, kanvas maupun layar komputer grafis.

JEJAK LUKA YANG MENGERING

Ketika pagi membuka hari
dan Ketika senja kembali datang
Ranting-ranting rapuh jatuh ke tanah
Bersama waktu yang semakin menua
Jejak-jejak luka kini telah mengering
Debu dan tanah memeluk jiwa kami yang pergi

Kepada semua yang tak berhati nurani
Kepada semua yang diperkuda kekuasaan
Bagimu kami hanyalah ranting kering

Tapi kami jiwa-jiwa bernurani
Kami terbang bersama sayap keadilan
Kepada kebenaran sejarah kami hinggap

Untuk jejak luka yang mengering

Pasar Minggu, 11 Maret 2009
didedikasikan untuk para korban pelanggaran HAM


KETIKA API MEMBAKAR


Ketika api membakar

Butir es menjadi arang

Melepuh lepuh di pucuk rasa

Menguapkan segala air mata

Mengering terpanggang luka

Aku rindu setitik embunmu di pagi buta

Pasar Minggu, 28 Juli 2007

DIALOG

Jendela rumah yang terbuka belasan tahun lalu

Saat siang yang senyap seusai hujan deras

Tanah yang basah dan daun-daun yang berair

Aku menjadi seonggok ruh yang merinduMu

CahayaMu meniadakan ruang dan waktu

Hanya tangis dalam simpuhku kepadaMu

Melenyapkanku pada diriMu

Satu….

Pancoran, dini hari 22 Agustus 2006

SYAIR CINTA I

Mencintaimu adalah mencintai kesepianku
Dalam kesendirianku aku memilikimu

Yogyakarta, 30 Juni 2001

SYAIR CINTA II

Titik embun berkilau
Kepada jendela kaca
Pagi berpeluk dingin
Masih lelapkah engkau kekasihku
Ketika semalam aku mencumbuimu
Sebagai kerlip-kerlip bintang malam hari

Yogyakarta, 1 Juli 2001

SYAIR CINTA III

Mencinta seperti air kepada biru samudra
Mencinta seperti tanah kepada hijau pohon
Mencintalah seperti alam raya
Selapang udara yang kau hirup
Dan sebersih percik mata air

Yogyakarta, 1 Juli 2001


%d bloggers like this: