Mengenal Karl Marx Lewat Komik

#Resensi

001121marxcover

Marx Untuk Pemula
Rius

Insist Press, Cetakan I Maret 2000

 

Karl Marx dan Marxisme, banyak orang merinding mendengarnya saat rezim orde baru berkuasa. Bagaimana tidak? ribuan orang telah menjadi tumbal politik karena dicap marxist dan komunis. Sedemikian mengerikankah Marx dan Marxismenya? sehingga rezim orde baru begitu ketakutan dan mengalami phobia yang berkepanjangan terhadap aliran pemikiran ini. Pelarangan ajaran Marxisme secara total, memang telah menutup pemahaman publik terhadap Marxisme itu sendiri, publik hanya mengenal bayangan hitam Marxisme sebagai “setan” yang berbahaya, tanpa kesempatan mengenal bagaimana Marxisme dipahami dalam wacana intelektual dan ilmiah. Pergesekan wacana publik yang telah sedemikan lama membeku memang masih menyisakan trauma-trauma politik di masa lalu, tidak terkecuali di jaman reformasi sekarang ini. Memang akhir-akhir ini buku-buku kiri begitu marak diterbitkan, dan konon laku keras di pasaran. Bagaikan kran yang terbuka setelah tersumbat selama 32 tahun rezim orba, kini antusiasme publik terhadap hal-hal yang berbau kiri begitu tinggi dari buku hingga barang-barang merchandise semacam tas, poster atau syal. Bahkan ada kecenderungan terjadi komodifikasi hal-hal yang berbau kiri, apakah kiri telah bergeser menjadi trend bukan sebagai keterterikan ideologis? Saat kapitalisme, hedonisme dan budaya pop menemukan jamannya. Siapapun bisa membeli Che Guevara lewat sepotong poster dan tas atau menikmati Lenin dalam nyamannya kaos oblong. Nah, apa salahnya kita berkenalan dengan Marx melalui lembar-lembar komik.

Continue reading

Advertisements

Lovely Lunpia Delight from Semarang: Sebuah Catatan

lunpiadelight

Membicarakan lunpia, sudah lazim jika konotasi kita selalu teringat kota Semarang, sebagaimana kota-kota lainnya yang memiliki kuliner khas sebagai identitas seperti Gudeg Jogja, Jenang Kudus, Dodol Garut, Peuyeum Bandung dan masih banyak lagi. Tentu kuliner khas suatu daerah memiliki sejarah panjang secara kultural maupun sosial sehingga menjadi suatu kekhasan suatu daerah tertentu. Selama ini keberadaan kuliner khas suatu daerah selalu terkait erat dengan tradisi masyarakat pendukungnya dengan beraneka aktivitas budayanya selama puluhan tahun hingga beradad-abad. Keragaman kuliner juga sekaligus merupakan simbol bagi sebuah peradaban panjang umat manusia.

Continue reading


Conotation – Sign – Value

#CopyPaste

quotes yasraf

Graphic Designer berkutat dalam wilayah estetika visual seputar asosiasi-asosiasi makna/konotasi, Sign (tanda) dan nilai (value) untuk kepentingan komunikasi.

Agung Budiman @agungvisualwork


Desember tees design

Desember tees from AgungStudio | Visualophy
tees.co.id/stores/visualophy

image

image

image

Continue reading


Gerakan Komik Lokal 90-an

cover-vol-7

(Majalah Infotekno Edisi 10 Th. 2 2002) | 


“Bedebah… Jahanam…Bangsat….!!!”
Makian-makian para pendekar komik Indonesia itu tentu sudah tak segagah dahulu. Si Buta, Panji Tengkorak, Godam dan Gundala, satu-satu roboh dihantam batu menhirnya Asterix -Obelix, jurus peremuk tulangnya Chinmi dan akhirnya dikencingi si bocah nakal Sinchan.

Mereka semua sudah lama mati, dikubur bersama runtuhnya dunia perkomikan lokal menjelang akhir 70-an. Tulisan ini tentu tidak bermaksud bernostalgia dengan almarhum jagoan-jagoan lokal tersebut dan sekedar menjadi obituary komik lokal Indonesia. Bagaimanapun sejarah akan tetap bergulir, perubahan-perubahan yang terjadi tentu tidak bisa kita abaikan begitu saja . Perkembangan komik di Indonesia kini sudah menjadi panggung komik-komik impor. Awal 80-an adalah permulaan invasi pemain-pemain asing tersebut. Dekade 80-an boleh dikatakan hampir tidak ada gebrakan karya-karya komik lokal seperti dekade-dekade sebelumnya. Harus diakui, pelaku dan pekerja komik kita memang harus belajar banyak pada karya-karya komik asing yang jauh lebih inovatif, baik dari sisi tema, gambar dan teknik becerita sampai pada soal manajemen penerbitan. Salah satu pemain bisnis komik yang sukses adalah industri komik Jepang yang mulai masuk pertengahan 80-an setelah era komik Eropa dan Amerika seperti Asterix, Tintin, Superman, Batman, Lucky Luke, Trigan yang lebih dulu merajai pasar komik Indonesia.

Continue reading


%d bloggers like this: